Sebelum kita membahas seputar Kesehatan Mental Bagi Generasi Z, kita akan membahas terlebih dahulu apa itu Kesehatan Mental.
Kesehatan Mental adalah keadaan dimana setiap individu berada dalam kondisi sejahtera, dan bisa mewujudkan potensi diri mereka sendiri. Seseorang yang memiliki mental yang sehat dapat mengelola stres kehidupan yang wajar, bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan dalam lingkungan sosialnya (WHO, 2015).
Berdasarkan penelitian American Psychological Association (APA) tahun 2018 berjudul “Stress in America: Generation Z”, anak muda usia 15 sampai 21 tahun adalah kelompok manusia dengan kondisi kesehatan mental paling buruk dibandingkan dengan generasi-generasi lainnya.
Generasi Z, yaitu anak-anak muda yang berusia 15 dan 21 tahun, dilaporkan lebih rentan terkena gangguan mental dari generasi lainnya. Kondisi ini tidak terlepas dari aktivitas politik, kekerasan dan pelecehan seksual, serta perubahan iklim yang terjadi. Dan, survei baru menunjukkan bahwa permasalahan negara dan global berperan atas tingkat stres pada generasi ini.
Seperti di Amerika Serikat, kekerasan dengan senjata, kekerasan seksual, dan isu imigrasi mendominasi siklus berita pada tahun 2018. Masalah-masalah tersebut dinilai sebagai penyebab utama stres di kalangan generasi Z, menurut survei tahunan yang dirilis American Psychological Association (APA) pada Selasa (30/10).
Penelitian yang dilakukan APA tersebut melakukan wawancara dengan 3459 responden berusia 18 tahun ke atas, dan 300 wawancara dengan responden berusia 15 sampai 17 tahun. Mereka mengukur sikap dan persepsi stres untuk mengidentifikasi sumber stres utama di kalangan masyarakat umum.
Menurut penelitian tersebut, hasil yang diperoleh menunjukkan sebanyak 91% generasi Z mempunyai gejala - gejala emosional maupun fisik yang berkaitan dengan stres, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Stres adalah faktor terbesar penyebab buruknya kesehatan mental generasi Z.
"Tekanan yang dihadapi Gen Z berbeda dari yang dihadapi generasi yang lebih tua pada usia yang sama," kata Arthur Evans, seorang psikolog dan CEO dari American Psychological Association.
Peningkatan angka bunuh diri, peningkatan laporan terhadap kasus kekerasan dan pelecehan seksual, hingga pemanasan global dan perubahan iklim adalah beberapa faktor pemicu stres generasi Z. Isu-isu tersebut bisa menjadi persoalan tersendiri bagi individu-individu dalam generasi Z akibat tingginya aksesibilitas informasi bagi generasi Z.
Selain generasi Z, tidak ada satu generasi pun yang tinggal di era dimana mereka bisa dengan mudah bersentuhan akrab dengan teknologi pada usia yang sangat muda (Prensky, 2001). Hal itu menyebabkan"hidup" di dunia maya adalah hal yang sangat biasa dan familiar untuk generasi Z.
Sebuah survey tentang penggunaan media dilakukan kepada 2000 orang generasi Z usia 8-18 tahun. The Rideout, Foehr, and Roberts untuk Kaiser Family Foundation (2010) melaporkan bahwa dalam sehari, generasi Z menghabiskan hampir 8 jam untuk beraktivitas dengan perangkat multimedia elektronik.
Selain tekanan kehidupan, generasi Z juga merasakan stres akibat informasi - informasi tak terbatas yang beredar di sekitarnya. Banyaknya jumlah media massa yang berbasis internet atau media daring membuat generasi Z semakin dekat dengan informasi dari seluruh dunia.
Termasuk di dalamnya adalah informasi mengenai masalah-masalah di dunia dan sekitarnya. Karena banyak terpapar informasi, semakin pahamlah generasi Z terhadap permasalahan-permasalahan itu.
Dengan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengakses internet, lama-kelamaan, pengetahuan mereka menjelma menjadi sebuah bentuk kekhawatiran yang menjadi tekanan untuk diri mereka sendiri.
Keakraban generasi Z dengan teknologi bukan semata-mata implikasi dari kemajuan zaman, tetapi juga mempengaruhi aspek psikologis dan behavioralnya. Menurut Toronto (2009), terdapat kecenderungan generasi Z memanfaatkan tekonologi untuk menghindari perjuangan di kehidupan nyata mereka dan untuk menemukan kenyamanan (berbaur) dengan melarikan diri dan berfantasi untuk mengisi waktu maupun kekosongan emosional.
Ternyata, generasi ini memanfaatkan dunia virtual sebagai tempat “pelarian” dari kehidupan nyata. Sayangnya, internet bisa membuat kondisi kesehatan mental generasi Z menjadi lebih buruk.
Menurut Anthony (Turner, Anthony. 2015. Generation Z: Technology and Social Interest. University of Texas Press: Texas), banyak terdapat situs-situs yang menampilkan self-harm dan mengajarkan orang untuk membuat senjata yang dapat dengan mudah diakses. Hal itu bisa mendorong anak muda membentuk perilaku sesuai apa yang ia simak di internet.
Bukan hanya stres, hasil lain dari keakraban generasi Z dengan teknologi adalah terganggunya kondisi psikologis. Generasi Z akrab dengan video games, permainan berbasis gadget dan internet yang menjadi sumber hiburan bagi banyak orang.
Padahal, menurut Weinstein (2010), banyak bermain video games bisa menyebabkan ketidakmampuan untuk mengatur rasa frustasi, rasa takut, kegelisahan, dan menurunnya nilai di sekolah. Sementara itu, bermain video games secara berlebihan, disampaikan Van Rooij, Meerkerk, Schoenmakers, Griffiths, & Van De Mheen (2010) dapat berdampak pada ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah dalam memenuhi cinta, pekerjaan, dan persahabatan.
Komunikasi yang semula terbatas jarak, kini bisa dilakukan dengan mudah melalui medsos dan beragam fiturnya. Tak ada lagi halangan jarak dan waktu dalam berkomunikasi berkat adanya medsos.
Tapi, ternyata medsos bukan hanya membawa kemudahan bagi generasi Z. Hasil riset APA menunjukkan bahwa media sosial memang memainkan peran yang amat besar dalam kehidupan generasi Z, tapi bukan hanya peran yang berdampak positif. Sebanyak 55 persen generasi Z merasakan medsos memberikan mereka dorongan yang positif bagi diri mereka.
Di sisi lain, 45 persen generasi Z mengaku medsos membuat mereka merasa dihakimi dan sebagian lain merasa buruk tentang dirinya sendiri akibat medsos.
Kebebasan berpendapat di media sosial adalah penyebabnya. Berbeda dengan media massa yang mempunyai sosok gatekeeper untuk menjaga arus keluar-masuk informasi, siapa saja bisa mengatakan dan menyebarkan apa saja melalui medsos. Perkataan atau komentar berbau kebencian juga termasuk hal yang umum di medsos.
Perilaku menekan, mempermalukan, mengancam dan melecehkan seseorang melalui pesan di internet dan medsos disebut dengan perundungan siber (cyberbullying). Generasi Z adalah generasi yang sering berhadapan dengan perundungan siber (cyberbullying), baik sebagai korban maupun sebagai pelaku (Steyer, 2012).
Selain karena kedekatannya dengan teknologi, kecenderungan generasi Z dalam memanfaatkan teknologi sebagai pelampiasan kekosongan emosional dan kondisi kehidupan nyata yang tak sesuai ekspektasi menjadi penyebab hal itu terjadi. Bagi pelaku, perundungan siber merupakan wujud pelampiasan emosional mereka yang tak bisa disalurkan di kehidupan nyata.
Sementara bagi korban, hal itu juga berdampak pada tekanan emosional. Tak heran bila dikatakan generasi Z mempunyai tingkat stres yang lebih tinggi dari orang-orang yang lebih dewasa. Cakupan pergaulan yang luas hingga merambah dunia virtual justru bisa menambah kemungkinan generasi tersebut untuk mendapatkan lebih banyak masalah.
Meskipun Generasi Z lebih rentan terkena gangguan mental, survei menunjukkan bahwa anak-anak muda ini lebih sigap dalam melaporkan kondisi kesehatan mental mereka daripada generasi lain.
Sekitar 37% anak muda Gen Z melaporkan rutin menerima perawatan dari profesional kesehatan mental. Mereka juga merasa bahwa itu cukup untuk mengelola stres mereka. Sementara, hanya 35% dari milenial, 26% Gen X, dan 22% baby boomer yang menerima pengobatan untuk kesehatan mental.
Lalu, Apa saja hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan mental ? Saya memiliki beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan mental, yaitu :
1. Melakukan aktivitas fisik dan tetap aktif secara fisik.
2. Membantu orang lain dengan tulus.
3. Memelihara pikiran yang positif.
4. Memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah.
5. Mencari bantuan profesional jika diperlukan.
6. Menjaga hubungan baik dengan orang lain.
7. Menjaga kecukupan tidur dan istirahat.
8. Mendekatkan diri dengan Tuhan.
9. Menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat merusak diri.
10. Mengungkapkan isi hati kepada orang yang dipercaya.
Maka dari itu, setiap orang perlu menjaga kesehatan mental untuk menghindari keluhan fisik yang muncul akibat stres. Karena, ketika seseorang stres, maka sistem imun dalam tubuh akan berkurang. Ini akan menyebabkan tubuh mudah terserang penyakit.
Sumber :
https://www.seributujuan.id/id/apa-itu-kesehatan-mental
https://muda.kompas.id/baca/2019/04/12/darurat-kesehatan-mental-generasi
https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3617250/generasi-z-rentan-terserang-gangguan-mental-z/
https://www.halodoc.com/kesehatan/kesehatan-mental
https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2698602/bagaimana-agar-terhindar-dari-gangguan-jiwa
Komentar
Posting Komentar